Harun dan Mushola Sunyi: Pengabdian yang Lahir dari Keterbatasan
Ruang kecil Mushola Hijrah yang terletak di Jalan Bencoolen, tepat di depan Benteng Marlborough Kota Bengkulu, tampak terawat meski jumlah pengunjungnya hanya beberapa orang setiap harinya. Lantai bersih, halaman rapi, dan peralatan ibadah yang selalu tertata menjadi tanda kehadiran seseorang yang merawat tempat itu dengan penuh kesungguhan. Sosok itu adalah Harun, mahasiswa Agribisnis Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) berusia 22 tahun yang selama empat bulan terakhir mengabdi tanpa diminta dan tanpa menerima imbalan apa pun. Harun adalah anak kedua dari tiga bersaudara yang telah menjadi yatim sejak kecil, dengan ibu yang bekerja sebagai petani padi. Latar belakang ini membentuk keteguhan sekaligus kepekaannya terhadap tanggung jawab.
Dalam data akademik kampus tercatat bahwa mahasiswa angkatan 2023 sedang memasuki semester lima, fase perkuliahan yang umumnya padat tugas. Namun Harun tetap meluangkan waktunya merawat mushola setiap hari. Selain itu, ia juga tercatat sebagai penerima beasiswa UKT dari kampusnya, bantuan yang sangat berarti mengingat kondisi ekonominya. Ia mengakui bahwa tinggal di mushola sekaligus mengabdi di sana menjadi cara agar tidak menambah beban biaya kos yang sulit ia tanggung. “Di sini saya bisa menjaga mushola dan sekaligus mengurangi beban ibu. Jadi saya memilih mengabdi saja,” ungkapnya.
Sebelum mengabdi di Mushola Hijrah, Harun lebih dulu mengabdi di masjid kampus UMB. Pengalaman itu memberinya pemahaman tentang pengelolaan ruang ibadah yang kini kembali ia terapkan. “Saya merasa harus tetap bermanfaat di mana pun berada. Di kampus saya belajar banyak, jadi ketika pindah mengabdi di sini saya hanya meneruskan apa yang sudah biasa saya lakukan,” ujarnya. Meski jumlah jamaah hanya beberapa orang seperti yang tercatat dari pengunjung harian, Harun tetap membersihkan mushola seolah tempat itu selalu ramai. Baginya, tanggung jawab bukan diukur dari keramaian, tetapi dari kesadaran menjaga kenyamanan orang lain
Pengabdiannya tidak lahir dari organisasi atau tugas formal apa pun. Ia memang mengikuti mentoring kajian, tetapi kegiatan itu tidak berkaitan dengan kebersihan mushola. Semua berasal dari inisiatif pribadi, rasa syukur atas bantuan biaya pendidikan, dan keinginan meringankan beban keluarga. Di sudut mushola sederhana yang berada di jalur wisata sejarah kota, tersimpan cerita seorang mahasiswa yang membangun nilai hidup melalui pengabdian sunyi.
Kisah Harun menunjukkan bahwa kontribusi sosial tidak harus dalam wujud besar. Tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberi makna luas. Di antara lantai mengilap dan suasana mushola yang tertata rapi, terlihat jejak ketulusan seorang anak petani yang belajar memahami hidup melalui pelayanan tanpa sorotan publik. Ia membuktikan bahwa satu orang saja mampu menghidupkan ruang yang hampir sepi dan memberi contoh bahwa nilai kebermanfaatan bukan ditentukan oleh besar kecilnya tindakan, melainkan ketulusan di baliknya.
Penulis: Andini Nopitasari
Komentar
Posting Komentar